NAMA-NAMA RASUL, SIFAT DAN TEMPAT DIUTUSNYA
Rasul
(Arab:رسول Rasūl; Plural رسل Rusul) adalah seorang yang mendapat wahyu
dari Allah dengan suatu syari'at dan ia diperintahkan untuk
menyampaikannya dan mengamalkannya. Setiap rasul pasti seorang nabi,
namun tidak setiap nabi itu seorang rasul. Jadi jumlah para nabi itu
jauh lebih banyak ketimbang para rasul.
Menurut
syariat Islam jumlah rasul ada 312, sesuai dengan hadits yang telah
disebutkan oleh Muhammad, yang diriwayatkan oleh At-Turmudzi. Menurut
Al-Qur'an Allah telah mengirimkan banyak nabi kepada umat manusia.
Bagaimanapun, seorang rasul memiliki tingkatan lebih tinggi karena
menjadi pimpinan ummat, sementara nabi tidak harus menjadi pimpinan. Di
antara rasul yang memiliki julukan Ulul Azmi adalah Nuh, Ibrahim, Musa,
Isa dan Muhammad.[1] Mereka dikatakan memiliki tingkatan tertinggi
dikalangan rasul. Rasul terbanyak di utus oleh Allah adalah kepada Bani
Israel, berawal dari Musa berakhir pada Isa dan diantara keduanya
terdapat seribu nabi.
Menyebutkan
nama-nama Rasul di dalam Al-Qur'an sejumlah 25 rasul. Pada surah
Al-An'am disebutkan sejumlah 18 rasul, sedangkan di dalam surah Sad
disebutkan sejumlah 7 rasul. Kisah para rasul ada yang diceritakan oleh
Allah, dan ada pula yang tidak diceritakan. Allah berfirman dalam Q.S.
Al-Mu'min 78.
Dan
sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad),
di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antaranya ada
(pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak ada seorang rasul
membawa suatu mukjizat, kecuali seizin Allah. Maka apabila telah datang
perintah Allah, (untuk semua perkara) diputuskan dengan adil. Dan ketika
itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil. (Q.S.
Al-Mu'min 78)
Para rasul yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur'an adalah sbb. No Nama Nabi dan Rasul Tempat Kerasulan
1. Adam a.s. di negeri Arab (Mekah)
2. Idris a.s. di negeri Irak
2. Idris a.s. di negeri Irak
3. Nuh a.s. di negeri Irak
4. Hud a.s. di negeri Arab (Yaman)
5. Salih a.s. di negeri Arab (Hijaz)
6. Ibrahim a.s. di negeri Palestina dan Mekah
7. Ismail a.s. di negeri Mekah
8. Luth a.s. di negeri Arab (Sodom Mesopotamia)
9. Ishaq a.s. di negeri Palestina
10. Ya’kub a.s. di negeri Mesir
11. Yusuf a.s. di negeri Mesir
11. Yusuf a.s. di negeri Mesir
12. Syu’aib a.s. di negeri Palestina
13. Ayub a.s. di negeri Mesir
14. Zulkifli a.s. di negeri Palestina
15. Musa a.s. di negeri Mesir, Madyan / Israil
16. Harun a.s. di negeri Mesir, Madyan / Israil
17. Dawud a.s. di negeri Meir / Israil
18. Sulaiman a.s. di negeri Israil
19. Ilyas a. s. di negeri Israil
20. Ilyasa’ a.s. di negeri Israil
21. Yunus a.s. di negeri Babilonia
22. Zakaria a.s. di negeri Israil
23. Yahya a.s. di negeri Israil
24. Isa a.s. di negeri Israil
25. Muhammad saw. di negeri Mekah.
Para rasul mempunyai sifat wajib dan sifat mustahil. Sifat-sifat wajib para rasul sebagai berikut.
1. Sidik,, artinya benar atau jujur. Allah swt. berfirman dalam Surah Maryam
2. Amanah, artinya dapat dipercaya.
3. Tablig, artinya menyampaikan
4. Fatanah, artinya cerdas. Rasul bersifat cerdas, bijaksana dalam segala hal
4. Fatanah, artinya cerdas. Rasul bersifat cerdas, bijaksana dalam segala hal
Dan kewajiban kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas Kebalikan dari sifat wajib tersebut, adalah sifat mustahul, yang berjumlah empat, yaitu
1. Kazib, berarti dusta,
2. Khianat berarti tidak dapat dipercaya
3. Kitman berarti menyembunyikan
4. Baladah, berarti bodoh.
Selain
sifat wajib dan sifat mustahil, para rasul juga memiliki sifat jaiz
sebagaimana manusia biasa. Sifat-sfiat tersebut antara lain, makan,
minum, tidur, menikah, sedih gembira, sakit dan sebagainya. Sekalipun
sifat-sifat jais tersebut melekat pada diri rasul, namun tidak
mengurangi martabat kerasulannya. Bagaimana pun, para rasul adalah
seperti manusia pada umumnya.
110.
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia
seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu
adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan
Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia
mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”